Mobil Bekas Jadi Indikator untuk Prediksi Inflasi

Para investor di Wall Street memprediksi kenaikan permintaan mobil bekas sebagai penanda datangnya inflasi

Mobil Bekas Jadi Indikator untuk Prediksi Inflasi
Photo: 123RF

TRENOTO – Mobil bekas dijadikan indikator untuk memprediksi inflasi oleh para investor di Wall Street. Mereka mengawasi harga mobil bekas dan rupanya hal ini jarang dipantau sebelumnya.

Indeks nilai kendaraan bekas dari Manheim yang merupakan marketplace mobil bekas secara grosir terbesar di dunia, 
kini diawasi ketat oleh para pemain bursa. Manheim sendiri memiliki catatan transaksi sekitar 5 juta penjualan mobil dalam setahun dan tentunya memiliki banyak data yang bisa dimanfaatkan.

Penjualan mobil bekas sendiri di Amerika Serikat saat ini disebut tengah mengalami kenaikan. Kenaikan minat pada mobil bekas ternyata dianggap sebagai pemicu inflasi ekonomi sebuah negara.

Dikutip dari Autoblog, Wall Street melakukan studi bahwa kenaikan harga mobil-mobil bekas di pasaran ternyata bisa memicu inflasi. Disebutkan harga mobil bekas merupakan salah satu indikator apakah sebuah negara akan mengalami inflasi atau tidak.

Lebih jauh dikatakan bahwa selama ini dealer mobil bekas mendapatkan unitnya dari balai lelang. Situasi yang kurang lebih sama dialami di Indonesia, mengenai lelang merupakan ‘mainan’ para pemilik dealer mobil bekas.

Meskipun adapula konsumen perorangan yang juga ikut mencari kendaraan di balai lelang. Namun jumlahnya tetap lebih banyak dari pemilik dealer hingga para calo.

Mendapatkan unit dari balai lelang tentunya akan memberikan keuntungan lebih banyak bagi dealer mobil bekas. Kemudian konsumen yang akan memikul bebannya setelah mendapat unit dari dealer.

Photo : 123RF

Dikatakan bahwa biasanya para investor akan melihat Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI), untuk mengukur inflasi. Namun menurut New York Times, selama musim panas ini, Manheim telah memprediksi kenaikan maupun penurunan CPI hingga beberapa bulan ke depan.

Manheim sendiri adalah sebuah balai lelang yang cukup besar di negara Paman Sam tersebut. Setidaknya mereka memiliki 145 lokasi lelang yang tersebar di Amerika, Eropa, Asia hingga Australia.

Kantor lelang yang berlokasi di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat ini bahkan bisa memprediksi angka-angka kenaikan maupun penurunan CPI dengan tepat.

Kenaikan harga dan tingginya minat mobil bekas di Amerika Serikat dikatakan ada sangkut pautnya dengan kelangkaan microchip. Susahnya microchip ini sendiri dipicu dengan adanya pandemi covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia.

Kelangkaan chip juga dialami banyak negara termasuk Indonesia. Hal ini membuat banyak produsen mobil harus mengurangi produksi bahkan hingga menghentikannya.

Disebutkan bahwa di Amerika Serikat, perusahaan otomotif besar seperti Ford dan Toyota harus mengmbil keputusan pahit terkait kelangkaan chip.

Semakin sedikitnya pasokan mobil baru di pasaran, membuat mobil bekas menjadi alternatif baru. Bahkan kondisi ini membuat harga mobil bekas ditawarkan lebih mahal daripada mobil baru.

Kondisi ini dilaporkan telah mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. New York Times melaporkan bahwa pada Juni harga mobil bekas 45 persen lebih mahal daripada mobil baru. Lalu pada Juli dan Agustus angka tersebut mengalami penurunan menjadi 32 persen, namun masih saja terlalu tinggi.

Artikel Terkait