Jokowi Sebut Harga Bensin di Negara Lain Rp32 Ribuan

Jokowi sebut harga bensin subsidi di Indonesia dijual Rp7 ribuan, Presiden Joko Widodo ajak masyarakat bersyukur

Jokowi Sebut Harga Bensin di Negara Lain Rp32 Ribuan
Photo: Setkab.go.id

TRENOTO – Membicarakan krisis pangan dunia, Presiden Joko Widodo bertemu langsung Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Melihat hal ini, mantan Walikota Solo tersebut juga mengajak masyarakat bersyukur melihat harga BBM subsidi di Indonesia saat ini.

Bukan tanpa alasan, Jokowi juga menyebut harga BBM di negara lain sudah menyentuh angka Rp31 ribu-Rp32 ribu. 

"Tapi perlu kita ingat subsidi BBM sudah terlalu besar dari Rp170 triliun sekarang sudah Rp502 triliun, negara mana pun tidak akan kuat menyangga subsidi sebesar itu, tapi alhamdulilah kita sampai saat ini masih kuat, ini yang perlu kita syukuri," kata Presiden seperti dikutip dari Antara.

Photo : Pertamina

Tak hanya itu, Jokowi juga menceritakan pertemuannya dengan dua petinggi negara terkait stok makanan yang terhabat karena perang. 

"Saya saat itu ketemu dengan Presiden Ukraina, Presiden Zelensky, dia cerita ke saya ada stok (gandum) di Ukraina di gudang 22 juta ton, stok dalam proses panen 55 juta ton, artinya 77 juta ton gandum diam di Ukraina, tidak bisa keluar karena perang," kata Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Istana Maryinsky, Kyiv pada 29 Juni 2022. Setelahnya Jokowi juga bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin pada 30 Juni 2022.

Photo : RideApart

"Saya bicara 1,5 jam dengan Presiden Zelensky lalu pindah ke Moskow ketemu Presiden Putin. Dia cerita juga ke saya ada stok gandum di Rusia 130 juta ton, berarti di Ukraina plus Rusia jumlah stok gandumnya ada 207 juta ton, bukan 207 ton tapi 207 juta ton. Inilah yang menyebabkan 333 juta orang kelaparan dan mungkin 6 bulan lagi 800 juta orang akan kelaparan akut karena tidak ada yang dimakan, sekali lagi," tambah Presiden.

Jokowi juga menyebut setelah hampir 2,5 tahun seluruh negara mengalami kendala karena pandemi Covid-19, perjuangan terkait pemulihan masih terus dilakukan. 

"Baru akan melakukan pemulihan tapi muncul sesuatu yang dadakan yang tidak kita perkirakan sebelumnya, sakitnya belum sembuh, muncul yang namanya perang di Ukraina sehingga semuanya menjadi bertubi-tubi, menyulitkan hampir semua negara, semua negara berada dalam posisi yang sangat sulit," ungkapnya

Artikel Terkait